Pasaman -- Suaradaerahnews.com
Upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di halaman Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pasaman, Senin (17/8), tidak berhenti pada penghormatan terhadap sejarah.
Seusai upacara, semangat kemerdekaan itu diterjemahkan ke dalam tindakan, menggalang kepedulian untuk membantu korban bencana alam gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kepala Kantor H. Rali Tasman, secara resmi me-launching gerakan penggalangan dana tersebut.
Gerakan kemanusiaan ini, melibatkan ASN di lingkungan Kantor Kemenag Pasaman, Kantor Urusan Agama (KUA), madrasah, hingga para siswa madrasah.
Bagi Rali Tasman, kemerdekaan tidak cukup hanya dikenang melalui pengibaran Sang Merah Putih. Kemerdekaan harus melahirkan manusia-manusia yang memiliki kepedulian terhadap sesama.
“Jadilah manusia yang peduli terhadap manusia.”
Pesan itu disampaikan Rali dengan sederhana, tetapi terasa dalam. Sebab, bencana tidak pernah memilih siapa yang akan menjadi korbannya.
Sumatera Barat sendiri bukan daerah yang asing dengan pengalaman pahit bencana. Gempa besar pernah meninggalkan luka panjang bagi masyarakat.
Karena itu, menurut Rali, ketika daerah lain sedang berduka, masyarakat Sumatera Barat semestinya mampu merasakan apa yang pernah dirasakan saudaranya sendiri.
“Empati itu lahir ketika kita mampu membayangkan jika musibah itu terjadi kepada kita, kepada keluarga kita, kepada saudara kita. Karena kita pernah merasakan bencana, maka jangan sampai pengalaman itu hanya menjadi kenangan. Jadikan ia alasan untuk lebih peduli,” pesannya.
Ia menegaskan, penggalangan dana tersebut bukan sekadar persoalan berapa rupiah yang terkumpul. Lebih dari itu, gerakan tersebut merupakan pendidikan kemanusiaan.
ASN belajar berbagi. Guru menanamkan kepedulian. KUA ikut bergerak. Madrasah mengajarkan kepada siswa bahwa keberagamaan tidak berhenti pada ibadah personal, tetapi juga hadir dalam bentuk kepedulian sosial.
Semangat kemanusiaan itu, sejalan dengan pesan Menteri Agama RI, H. Nasaruddin Umar, yang disampaikan dalam amanat upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Menag mengingatkan, bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah. Kemerdekaan lahir dari perjuangan, pengorbanan, darah, air mata, dan doa para pejuang bangsa.
Sejarah juga mencatat bahwa perjuangan tersebut tidak berdiri di atas satu kelompok. Para tokoh agama, ulama, pendeta, pastor, pandita, bhikkhu, dan tokoh agama lainnya, ikut berada di garis depan perjuangan merebut serta mempertahankan kemerdekaan.
Pesan itu menemukan relevansinya di Pasaman. Sebab, peserta upacara hadir dengan pakaian adat yang merepresentasikan keberagaman Indonesia. Ada pakaian adat Minangkabau, Melayu, Bali, dan berbagai daerah lainnya.
Merah Putih yang berkibar di atas halaman kantor seolah menjadi titik temu seluruh perbedaan itu.
Berbeda pakaian. Berbeda budaya. Berbeda latar. Tetapi berdiri dalam satu barisan Indonesia.
Menag menegaskan, para pahlawan telah mewariskan keberanian, persatuan, dan kecintaan kepada tanah air. Semua itu dibangun di atas kesadaran bahwa Indonesia menjadi besar justru karena keberagamannya.
Karena itu, kerukunan menjadi modal dasar pembangunan.
Tanpa kerukunan, bangsa akan sulit bertumbuh. Sebaliknya, ketika masyarakat mampu menjaga persaudaraan di tengah perbedaan, energi bangsa dapat diarahkan untuk membangun dan memajukan kehidupan bersama.
Dalam amanatnya, Menag juga menyampaikan perkembangan positif Indeks Kerukunan Umat Beragama.
Indeks tersebut meningkat dari 76,47 pada 2024 menjadi 77,89 pada 2025. Sementara itu, Indeks Kesalehan Umat Beragama 2025 mencapai 84,61.
Namun angka-angka tersebut, kata Menag, tidak boleh membuat bangsa berhenti berbenah.
Sebab, pada akhirnya pembangunan manusia tidak hanya diukur dari capaian angka, tetapi juga dari akhlak.
Di sinilah pesan kemerdekaan menjadi semakin substantif.
Apa arti kemerdekaan jika manusia masih kehilangan kepedulian?
Apa arti kesalehan jika penderitaan orang lain tidak mampu mengetuk hati?
Dan apa arti keberagaman jika perbedaan justru membuat manusia saling menjauh?
Pertanyaan-pertanyaan itu menemukan jawabannya melalui tindakan kecil yang dilakukan hari ini di lingkungan Kemenag Pasaman, mengulurkan tangan kepada mereka yang sedang tertimpa musibah.
Dan pada HUT ke-81 Kemerdekaan RI ini, Kemenag Pasaman ingin mengirimkan satu pesan sederhana kepada saudara-saudara yang sedang tertimpa bencana:
Dari Pasaman, dari tanah Minangkabau, dari keluarga besar Kementerian Agama, kepedulian itu sedang dihimpun.
Sedikit dari satu orang mungkin terlihat kecil,Tetapi ketika banyak hati bergerak dalam satu kepedulian, yang kecil dapat berubah menjadi kekuatan besar.
Itulah wajah lain kemerdekaan, bukan hanya bebas dari penjajahan, tetapi merdeka untuk peduli, merdeka untuk berbagi, dan merdeka untuk menjadi manusia yang memanusiakan manusia. (Yunedi)

